Sepotong Kehidupan
langit pagi itu kelabu. Angin membawa udara dingin yang menusuk, tetapi di dalam warung kopi kecil di sudut jalan, kehangatan terasa. Suara sendok beradu dengan gelas, obrolan pelan para pelanggan, dan aroma kopi hitam yang baru diseduh memenuhi ruangan sempit itu.
Doni duduk di pojokan, memandangi secangkir kopinya yang masih mengepulkan uap. Hari ini tak jauh berbeda dari kemarin—dan mungkin juga esok. Hidupnya berjalan pelan, seperti jarum jam tua di dinding warung ini.
Ia pernah bermimpi besar. Dulu, ia ingin menjadi seseorang yang berarti. Ingin kuliah di kota besar, ingin punya pekerjaan yang membanggakan, ingin membanggakan ibunya yang telah bekerja keras membesarkannya. Tapi hidup punya cara sendiri untuk mengajarkan kenyataan.
Kini, ia bekerja sebagai buruh di sebuah gudang. Bangun sebelum matahari terbit, berangkat kerja dengan motor tua yang sering mogok, lalu pulang larut dalam kelelahan. Tidak buruk, tapi juga tidak luar biasa. Hari-harinya berputar dalam siklus yang sama, tanpa kejutan, tanpa kejadian istimewa.
Dari balik jendela warung, ia melihat seorang bocah kecil berlari-lari mengejar bola plastik di pinggir jalan. Tawa renyahnya terdengar, seolah dunia ini hanya berisi kebahagiaan. Doni tersenyum kecil. Kadang ia rindu masa-masa itu—saat hidup belum dipenuhi tuntutan dan ekspektasi, saat mimpi masih terasa begitu mungkin digapai.
“Kopi lagi, Don?” suara pemilik warung menyadarkannya dari lamunan.
Doni menggeleng, lalu menghabiskan sisa kopinya dalam satu tegukan. Rasanya sudah tidak panas lagi. Ia merogoh saku, meletakkan beberapa lembar uang di meja, lalu bangkit berdiri. Sudah waktunya kembali bekerja.
Hidup terus berjalan, entah kita siap atau tidak.
Sumber:-Chat gpt
Komentar
Posting Komentar